Pertanian Indonesia Bermasalah! Simak 5 Alasannya

Pertanian Indonesia Bermasalah! Simak 5 Alasannya

Indonesia yang menjadi negara agraris terbesar kedua ternyata sedang mengalami persoalan yang menimpa sektor pertanian dalam negeri. Menurut Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ada lima persoalan yang masih dihadapi sektor pertanian Indonesia. Sekretaris Jenderal HKTI Bambang Budi Waluyo mengatakan permasalahan tersebut bukan hanya terjadi pada lahan persawahan, namun juga terjadi pada lahan kehutanan dan juga rempah-rempah.

Menurut Bambang, ada lima persoalan yang sedang dihadapi pertanian Indonesia. Kelima permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

1.Permodalan yang masih belum adil

Permodalan yang diterima oleh petani masih kurang dan tidak sepadan dengan harga jual yang mereka berikan. Sebuah solusi terhadap permasalahan ini harus segera ditemukan untuk meningkatkan gairah dari para pelaku agribisnis khususnya pada sektor pertanian dan kehutanan.

Petani Indonesia bermasalah

2.Lahan untuk pertanian semakin berkurang

Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan jalan raya memakan lahan untuk pertanian dan kehutanan. Masih banyak perbincangan yang cukup hangat, apakah infrastruktur lebih penting, ataukah lahan tersebut lebih bagus digunakan untuk lahan pertanian dan kehutanan?

3.Penggunaan teknologi pertanian modern yang belum maksimal

Perkembangan teknologi pada sektor pertanian masih belum secara maksimal digunakan oleh petani di Indonesia. Mayoritas pelaku agribisnis pada sektor pertanian dan kehutanan masih menggunakan teknologi tradisional sehingga tertinggal dengan negara agraris lain seperti Vietnam dan Thailand.

4.Persoalan pupuk yang tersebar tidak merata

Janji pemerintah untuk memberikan pupuk subsidi bagi para petani masih tersebar secara tidak merata dan menjadi salah satu masalah yang masih terus dihadapi oleh sektor pertanian dan kehutanan di Indonesia.

5.Pemasaran produk hasil Tani

Permasalahan terakhir adalah pemasaran dari produk hasil tani yang masih kurang dipasarkan sehingga tertuju pada pasar yang kurang luas, sehingga tidak memberikan kinerja yang maksimal bagi pelaku sektor pertanian dan kehutanan.

Bambang menilai perlu adanya pengembangan soft skill bagi para petani di daerah tertentu untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Kehadiran marketplace agribisnis seperti Ekosis tentunya menjadi salah satu solusi bagi permasalahan tersebut. “Keberadaan teknologi pertanian modern adalah sebuah keniscayaan maka dari itu perlu adanya perubahan mindset petani untuk menggunakan teknologi tersebut, bukan tradisional,” sebut Bambang.

 

Leave a Reply